Iklan Semua Halaman

Padi Sawah di Orahili Diserang Hama WBC

Suara Nias
Thursday, June 25, 2020
Nias
 – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan  Kabupaten Nias Faonaso Laoli mengatakan hama yang menyerang padi sawah di Kelompok Tani Faomasi di Desa Orahili Kecamatan Bawolato jenis wereng batang coklat (WBC). Diprediksi petani akan gagal panen.
Hal ini diungkapkan Faonaso kepada SuaraNias.ID melalui telephone selulernya Kamis (26/6/2020).

“Setelah kami melaksanakan kunjungan lapangan Rabu 25 Juni 2020 di Kelompok Tani Faomasi, ditemukan penyerang padi sawah itu jenis hama WBC”. Baca juga Tanaman Padi di Orahili Diserang Hama.

Dijelaskan Faonaso tingkat kerusakan bervariasi. Serangan ini disebabkan penggunaan benih padi varietas lokal yaitu Mao-mao yang sangat rentan dengan hama. Selain itu umur panen mencapai 5 bulan. juga adanya ketidakseragaman jadwal tanam dan ketidakaturan jarak tanam. 

Anehnya, menurut Faonaso,  beberapa bulan yang lalu pihaknya telah membagikan bantuan benih padi unggul varietas inpari 32 sebanyak 250 kilogram dengan umur hanya 3 bulan yang mampu disemai pada lahan 10 hektar. Kepada kelompok tani di Kabupaten Nias Akan tetapi petani Kelompok Tani Faomasi belum menanamnya.

“Kelompok Tani Faomasi mengaku belum menanam bibit unggul yang sudah kami berikan dengan alasan setelah bibit mereka terima, bibit Mao-mao sudah lebih awal mereka tanam” ujar Faonaso. Dimana petani berjanji akan menanam benih yang sudah mereka terima setelah selesai panen ke depan.

Untuk pengendalian sementara, pihaknya telah menyerahkan bantuan pestisida untuk mengendalikan hama WBC berupa aplud sebanyak 100 bungkus dengan kapasitias 100 gram per bungkus serta rodentisida klerat sebanyak 10 kilogram.

Pada kesempatan itu juga Faonaso memberikan contoh cara menyemprot tanaman padi yang sudah diserang hama. Namun, bukan sebuah jaminan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

“Populasi hama wereng batang coklat sudah cukup tinggi atau banyak sekali, juga barisan dan jarak tanam terlalu rapat dan tidak beraturan muzijat yang terjadi baru menerima hasil yang optimal artinya bisa-bisa gagal panen. Itulah masyarakat kita sulit menerima anjuran atau selalu bertahan pada kebiasaan mereka sendiri mohon dimaklum, tks”. Kata Faonaso melalui pesan Whatshappnya.

Diakhir pembicaraan, Faonaso berharap petani harus mengubah cara tanam dan menyesuaikan sebagaimana saran dari penyuluh pertanian lapangan.